Istiqomah! Sebuah kata yang cukup sering kita dengar. Cukup sering pula dibahas oleh sebagian guru-guru kita. Untuk sebuah teori, saya rasa kita sudah kenyang melahapnya. Tapi untuk aksi? Ternyata masih sangat jauh dari yang diharapkan. Bukan karena kurangnya pemahaman, tapi lebih menuju kepada kurangnya gairah pengamalan.
Konsep istiqomah sebenarnya lebih kepada konsekuensi. Lebih baik sedikit amal tapi kontinu, daripada banyak tapi melakukannya dengan tidak tentu. Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah bersabda :
Amalan-amalan yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pun, seperti yang di jelaskan Ibnu Rajab Al-Hambali adalah amalan-amalan yang konsekuen dilakukan. Beliau pun melarang memutus amalan dan meninggalkannya begitu saja.
Dan sudah menjadi sebuah keharusan bagi kita, sebagai kaum muslim. Untuk bisa semampu kita mengamalkan apa-apa yang di wasiatkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melalui sabda-sabda beliau. Begitu juga akan keistiqomahan ini, Rasulullah secara tersirat menganjurkan kita untuk bisa melakukan segala sesuatu secara kontinu/istiqomah. Konsekuensi menjadi harga mati untuk bisa istiqomah.
Konsep istiqomah sebenarnya lebih kepada konsekuensi. Lebih baik sedikit amal tapi kontinu, daripada banyak tapi melakukannya dengan tidak tentu. Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah bersabda :
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'alaa adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit." 'Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk bisa merutinkannya. (HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan Amalan Shalat Malam yang Kontinu dan Amalan Lainnya.)
Amalan-amalan yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pun, seperti yang di jelaskan Ibnu Rajab Al-Hambali adalah amalan-amalan yang konsekuen dilakukan. Beliau pun melarang memutus amalan dan meninggalkannya begitu saja.
Dan sudah menjadi sebuah keharusan bagi kita, sebagai kaum muslim. Untuk bisa semampu kita mengamalkan apa-apa yang di wasiatkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melalui sabda-sabda beliau. Begitu juga akan keistiqomahan ini, Rasulullah secara tersirat menganjurkan kita untuk bisa melakukan segala sesuatu secara kontinu/istiqomah. Konsekuensi menjadi harga mati untuk bisa istiqomah.
Dan itu yang kini belum ada pada diri kita. Sebuah KONSEKUENSI. Masih saja menggampangkan suatu amalan, yang ujung-ujungnya terjadi ketidak-istiqomahan. Masih butuh banyak belajar. Masih butuh banyak sekali pengalaman. Dan menurut saya pribadi, cukuplah kita belajar keistiqomahan dari pribadi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, dari hadits-hadits beliau, dan pengalaman-pengalaman beliau. Karena potret manusia paling istiqomah, ada pada diri beliau. Manusia paling sempurna, manusia paling agung sepanjang sejarah.
